ING KUTHO MADHIOEN

Welcome di komunitas SMPN 2 Kota Madiun

JEJAK KISAH SANG PANGLIMA PUTRI

RADEN AYU RETNO DJUMILAH

PERJUANGAN SEORANG PEREMPUAN DI MADIUN

Pendahuluan

Tadi pagi datang kepada saya seorang teman mendampingi salah satu siswanya dan bertanya kepada saya,tentang Kanjeng Ratu Raden Ayu Retno Djumilah. Mereka bertanya kepada saya siapa itu Raden Ayu Retno Djumilah dan apa perannya di Madiun sehingga nama beliau begitu tersohor di kota Madiun. Karena saya bukan sejarawan saya terpaksa bilang kalau saat ini saya belum bisa memberikan keterangan secara pasti karena beberapa artikel dan bahan pustaka yang ada hubungannya dengan yang mereka inginkan masih ada di rumah. Baru setelah pulang dari kantor, saya mulai membuka tumpukan-buku buku yang ada dan Alhamdullilah apa yang saya cari akhirnya ketemu juga. Tulisan ini saya edit dari berbagai macam sumber. Untuk itu mohon maaf apabila agak sedikit lambat saya mempostingkan hal ini untuk anda berdua. Mudah-mudahan bisa bermanfaat . Thanks….

>>>>>>>>

I. bupati madiun ( pangeran timoer) membangkang pada mataram

Bicara tentang Raden Ayu Retno Djumilah kita tak bisa lepas dari Pangeran Timoer. Pangeran Timoer adalah bupati pertama yang memimpin Kabupaten Purabaya ( Madiun) yang juga ayahanda dari Raden Ayu Retno Djumilah. Pangeran Timoer dinobatkan sebagai bupati bertepatan dengan pengangkatan Sultan Hadiwijaya sebagai Sultan Demak yaitu pada tanggal 18 Juli 1568, menggantikan tugas Kyai Rekso Gati yang sebelumnya ditugaskan memimpin pemerintahan pengaan di Madiun dan berkedudukan di desa Sogaten saat ini.Pangeran Timoer adalah putra bungsu Sultan Trenggono yang berkuasa di Demak Bintoro 1521-1546. Disamping menjabat Bupati, pangeran Timoer diangkat pula menjabat wedana bupati yang bertugas mengkordinir para bupati daerah mancanegara timur diantaranya; Trenggalek, Kediri, Blitar, Tulung, Ngrawa, Kertosono, Brebek, Pakis, Ponorogo, Jogoro, Caruban, Wirasari, Lamongan, Mamenang, Ngoro, Sengguruh, Tuban bahkan Surabaya dan Pasuruan ikut pula bergabung di dalamnya.Pangeran Timoer yang lebih dikenal dengan namanya Panembahan Emas tidak lama setelah menjabat bupati, pada tahun 1575 atau 7 tahun setelah menjabat bupati beliau memindahkan pusat pemerintahan ke selatan yaitu disekitar daerah Demangan yang kemudian dinamakan orang ” Kota Miring”. Hal ini dilakukkan Pangeran Timoer atas beberapa pertimbangan, antara lain faktor alam, pertahanan, keamanan , sosial , ekonomi dan pencitraan diri sang bupati sebagai putra Sultan Demak ke III dan klaim Kabupaten Purabaya sebagai bagian dari wilayah Pajang 1568 – 1586.

Panembahan Emas atau Pangeran Timoer dalam catatan sejarah mempunyai 24 orang anak. Namun dari sekian anak tersebut hanya ada 2 anak-anak beliau yang terkemuka yaitu;

1. Raden Ayu Retno Djumilah (menjadi Permaisuri Panembahan Senapati dari kesultanan Mataram

2. Raden Mas Calontang ( menjadi bupati di daerah japan) Jawa Timur.

II. Penyerangan pasukan mataram ke madiun

Pada tahun ke 18 pemerintahan Pangeran Timoer. Raden Sutawijaya yang berkuasa di Mataram memberontak menyerang Pajang dan berhasil mengalahkannya. Kemudian Raden Ngabei Sutawijaya yang dikenal dengan nama lain Raden Ngabei Selo ing Pasar naik tahta dengan gelar Panembahan senapati ing Alaga tahun 1601.Gelar ini sangat sesuai karena selama berkuasa sebagai Sultan ke 1 di Mataram, sampai mangkatnya sering melakukan peperangan untuk mewujudkan cita-citanya menguasai seluruh pulau Jawa. Lahirnya Kesultanan Mataram yang diperintah oleh pemimpin yang bukan keturunan Raja raja Demak menjadikan perselisihan antara Pangeran Timoer dengan Panembahan Senapati. Pangeran Timoer tidak mau mengakuinya dan sebaliknya ia menyatakan diri sebagai ahli waris sah keturunan Demak. Dan untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk atas serangan Mataram ke Purabaya, untuk itu Pangeran Timoer segera membentuk persekutuan para Bupati Mancanegara guna persiapan menghadapi pasukan Mataram yang dipimpin oleh Panembahan senapati.

Dan seperti yang diperkirakan sebelumnya bentrokan fisik antara Purabaya dan Mataram tak bisa dihindarkan lagi. Pasukan Mataram mengempur Madiun (Purabaya) pertama kali tahun 1586 kemudian serangan kedua pada tahun 1587. Namun seperti serangan pertama, serangan kedua inipun dapat dipatahkan pasukan Madiun yang dibantu para bupati Mancanegara Timur. Analisa Mataram bahwa akan lebih mudah menumpas pembangkangan bupati mancanegara Timur apabila Purabaya hancur lebih dahulu ternyata tak semudah yang dibayangkan.

Sejak pasukan Mataram dibawah yang dpimpin Danang Sutawijaya atau yang dikenal dengan Panembahan Senapati berusaha menundukkan kabupaten Purabaya pertama kali di tahun 1586.Sebagai langkah awal untuk menguasai seluruh pulau Jawa, terutama wilayah timur jawa. Mereka telah mendapatkan perlawanan sengit dari pasukan Madiun yang gagah berani membela tanah airnya, membuat Mataram kembali mengirimkan pasukan yang kedua untuk mengempur Purabaya di tahun 1587. Tapi serangan inipun dapat dipatahkan oleh pasukan Madiun yang setia dan disiplin. Kedua serangan Mataram ini dapat dihancurkan pasukan Madiun (Purabaya) pada saat itu sebenarnya tampuk kepemimpinan pemerintahan telah diserahkan oleh Pangeran Timoer kepada Raden Ayu Retno Djumilah putrinya yang menjabat sebagai bupati ke 2 sekaligus panglima tertinggi pasukan perang dari kabupaten Purabaya.

III. Siasat mataram mengalahkan kabupaten madiun

Kekalahan dua kali dari pasukan Kabupaten Purabaya membuat Mataram memperhitungkan dengan cermat dan taktik yang jitu untuk serangan yang ketiga kalinya. Segala persiapan dan perlengkapan dipersiapkan dengan teliti, mulai dari mengirim mata-mata ke wilayah Madiun, pelatihan prajurit secara fisik dan ketrampilan berperang sampai menambah jumlah personil pasukan dengan merekrut prajurit bayaran dari daerah Kedu, Bagelen,Banyumas,Pajang dan Mataram sendiri.

Kekalahan dua kali dari pasukan Purabaya adalah pengalaman pahit dan tak boleh terulang lagi,tapi juga merupakan guru yang terbaik untuk mendapatkan kemenangan. Belajar dari pengalaman yang diperoleh Mataram akhirnya didapat kesimpulan bahwa dengan kekuatan militer saja tidak mungkin dapat menaklukkan Madiun yang dipimpin panglima perang wanitanya. Suatu siasat jitu dari Ki Mandraka penasehat Mataram akhirnya dilaksanakan untuk mengalahkan Madiun.

Pasukan Mataram berangkat dari Plered(Jogjakarta) ke wilayah Madiun pada bulan Muharam, kemudian mereka berkemah di sebelah barat “Kali Dadung” ( Bengawan Madiun sekarang ini ) sambil mengatur persiapan penyerbuan ke madiun. Dengan siasat berpura –pura menyampaikan berita penyerahan Panembahan Senapati diutuslah seorang abdi/dayang yang cantik jelita bernama Adi Sara ke wilayah Madiun dengan harapan bahwa panembahan Madiun akan membubarkan tentaranya yang berasal sekurangnya 15 kabupaten dari wilayah timur. Dan benar, tak ada satupun pasukan Madiun yang mengganggu Adi Sara ketika itu. Dengan pakaian yang indah dan mempesona dan kecantikannya Adi Sara melewati garis depan pertahanan Madiun menuju istana Wonorejo di kota Miring.

Tanpa memberitahu akan kedatanganya lebih dahulu, Adi sara membuat tekejut Pangeran Timoer. Kemudian Adi Sara menyerahkan surat penyerahan Panembahan Senopati. Dan setelah membaca isi surat itu Pangeran Timoer memerintahkan para bupati yang hadir dan selama ini ikut bertempur melawan mataram untuk kembali ke daerahnya masing-masing karena perang sudah berakhir. Tak lama setelah semua pasukan para bupati wilayah timur kembali ke daerahnya masing-masing. Adi Sara mohon air bekas mencuci kaki panembahan Madiun untuk diminum oleh majikannya Panembahan Senapati. Pangeran Timoer gembira dan bersedia menerima panembahan Senapati sebagai putranya.

Setelah Adi Sara kembali dari Madiun dan menemui panembahan Senapati. Tak lama kemudian Panembahan Senapati memimpin langsung penyerangan ke Madiun, yang dipertahankan oleh pasukan Madiun yang jumlahnya tak seimbang dengan pasukan musuh. Mendapati bahwa telah ditipu oleh panembahan senapati, Pangeran Timoer sangat terkejut dan mengatakan bahwa panembahan senapati itu “manawisa” yaitu bagaikan madu luarnya tapi racun di dalamnya. Kemudian Pangeran Timoer bersama beberapa pengikutnya pergi ke WiraSaba.

IV. Pertempuran seru di sekitar sendang PANGURIPAN Desa KUNCEN

Panembahan Senapati akhirnya dapat masuk dan menyerbu istana yang dipertahankan oleh pasukan Madiun yang jumlahnya tak seimbang dengan pasukan musuh. Sekalipun demikian, pasukan Purabaya ( Madiun ) tetap menunjukkan kegigihanny bertempur dibawah pimpinan panglima perang yang juga bupati ke 2 Madiun.

Suatu peristiwa pertempuran seru terjadi di daerah sekitar patirtan atau sendang yang dikenal orang dengan nama “sendang panguripan”(daerah Desa Kuncen sekarang)antara Panembahan senapati melawan panglima perang Madiun yaitu Raden Ayu retno Djumilah yang bersenjatakan keris Kyai Kala Gumarang” mampu mengimbangi Panembahan Senapati yang membawa pusaka andalannya “ Tumbak Kyai Plered” Pada perang tanding satu lawan satu antara panembahan Senapati dan Raden Ayu Retno Djumilah tersebut pusaka andalan Madiun dapat direbut oleh Panembahan Senopati. Dengan lepasnya pusaka andalannya ditambah semakin banyaknya jumlah pasukan Madiun yang gugur menjadi korban di medan laga karna jumlah yang tak seimbang, belum lagi rakyat Madiun yang tak berdosa ikut jadi korban pertempuran itu.

Berdasarkan berbagai perhitungan yang matang dan untuk menghindari semakin banyaknya korban yang jatuh Raden Ayu Retno Djumilah berpikir dengan bijaksana. Jika pertempuran diteruskan selain menambah jumlah korban juga akan melahirkan kematian dan menyisakan kebencian dan dendam yang tak pernah akan berhenti. Akhirnya beliau memutuskan untuk berkompromi dengan Panembahan Senopati dari Mataram. Raden Ayu Retno Djumilah lalu berpindah ke istana mataram di Plered (Jogjakarta). Raden Ayu Retno Djumilah di Mataram bukan sebagai tawanan atau putri boyongan melainkan sebagai tamu kehormatan Mataram untuk membicarakan masa depan Purabaya.

Dalam perjalanan waktu raden Ayu Retno Djumilah justru mampu mengambil simpati dan perhatian panembahan Senapati karena kecerdasan pemikirannya sehingga akhirnya dia dipersunting oeh Panembahan senapati sebagai permaisuri Mataram.

Dan untuk menandai peristiwa pertempuran antara mataram dan Purabaya oleh penasehat Mataram Ki Mandraka diusulkan agar nama kabupaten Purabaya diganti dengan nama yang baru yaitu : MBEDI-AYUN ~ MBEDIYUN ~ MADIUN”

MBEDI : SENDANG atau SUMBER AIR

AYUN : PERANG

Yang artinya peperangan di sekitar sendang, dalam hal ini untuk mengenang perang tanding antara panembahan Senapati melawan Raden Ayu Retno Djumilah. Konon di Sendang itu pula Empu sakti yang bernama Jaka Suro menciptakan keris “ Kyai Kala Gumarang “ yang kemudian setelah direbut panembahan Senopati diganti namanya menjadi “ Kyai Tundung Madiun” Penggantian nama Purabaya menjadi Madiun terjadi pada hari Jumat legi tanggal 21 Suro tahun Dal 1510 Jawa atau pada hari Jumat Legi tanggal 18 Juli 1590 Masehi.

V. PERJUANGAN SANG PANGLIMA PERANG WANITA YANG BIJAK

Raden Ayu Retno Djumilah adalah sosok wanita yang cerdas dan trengginas, bukan hanya trampil dalam ilmu perang tapi juga sebagai sosok wanita pemimpin yang disegani dan dicintai rakyatnya. Putri bupati Pangeran Timoer ini kemudian juga mengemban tugas sebagai seorang bupati setelah ayahandanya menyelesaikan tugasnya. Sejarah mencatat bahwa Raden Ayu Retno Djumilah harus berhadapan dengan kekuasaan dan kekuatan yang lebih besar, yaitu kasultanan Mataram akibat jatuhnya kesultanan Demak yang kemudian kekuasaan pindah ke Mataram, maka ada kebijakan dari Mataram yang menjadikan Wilayah Demak berada dalam kekuasaannya.

Kabupaten Madiun memang jadi sasaran utama untuk dikuasai mataram karna posisisnya yang strategis. Disamping pengaruh kuat dari bupati Madiun yang waktu itu menjadi pemimpin para bupati wilayah Timur. Kebijakan Mataram menjadikan Madiun berada dalam wilayahnya sejak awal ditolak oleh pangeran Timoer sehingga terjadilah serangan mataram ke Madiun. Serangan pertama tahun 1586 dan serangan kedua tahun 1587 dapat digagalkan pasukan Madiun. Baru kemudian serangan yang ketiga tahun 1590 serangan mataram berhasil melumpuhkan Purabaya.

Sebagai seorang pemimpin yang cerdas, pemberani dan bijak pada peristiwa pertempuran tahun 1590 itu Raden Ayu Retno Djumilah yang memimpin perlawanan rakyat Purabaya pada akhirnya mengambil inisiatif untuk berkompromi dengan situasi. Dia lebih memilih kepentingan masa depan Purabaya ketimbang mengorbankan rakyat Purabaya demi sebuah ambisi menang perang. Keputusan ini tentu saja menguntungkan kedua belah pihak.Bahkan akhirnya Raden Ayu Retno Djumilah diboyong ke Mataram bukan sebagai tawanan tapi sebagai tamu kehormatan untuk membicarakan Madiun pasca perang, Namun karena kecerdasan dan kemampuannya pada perjalanan waktu akhirnya Raden Ayu Retno Djumilah dipersunting oleh Panembahan Senopati sebagai permaisuri.

Perkawinan dengan pemimpin Mataram ini lebih dari sekedar hubungan pribadi tapi merupakan suatu momentum yang menempatkan Madiun secara terhormat dalam sejarah kerajaan di jawa. Sebagai seorang wanita raden ayu Retno Djumilah beliau sangat hebat. Bukan hanya sekedar anak bupati tapi sebagai tokoh pemimpin yang kharismatik dan menguasai banyak hal. Dan sebagai seorang panglima perang dia sangat disegani kawan maupun lawan bahkan seorang pemimpin besar Mataram pun mengakui hal tersebut. Dengan kearifan dan kepandaiannya dia juga berhasil menghentikan konflik besar yang sempat terjadi tanpa ada satu pihak yang merasa dirugikan.

Hal ini menunjukkan bahwa Raden ayu Retno Djumilah adalah seorang tokoh wanita yang mampu memberikan pemaknaan peran kepemimpinan perempuan yang luar biasa yang tak kalah dengan kaum pria. Suatu bentuk emansipasi di masa silam sebelum perjuangan RA Kartini, Dewi Sartika dan lain lain telah ditunjukkan oleh panglima perang dan bupati Madiun ke 2 ini. Tanpa meninggalkan kodrat sebagai wanita Raden Ayu Retno Djumilah berhasil membuktikan banyak hal yang bisa dipelajari oleh para wanita khususnya para wanita di daerah Madiun untuk bisa membaktikan dirinya dalam setiap karya nyata bagi kehidupan tanpa dibayangi oleh diskriminasi gender atau ketakutan yang tak beralasan sama sekali.

About these ads

April 22, 2009 - Posted by | Rubrik bebas

1 Comment »

  1. mat tour shoe wond

    Comment by anshfajr | April 23, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: